Khitanan Dan Khatam Al Qur’an

Sebelum dilaksanakan khitanan, maka dilaksanakan berbagai upacara adat, seperti antara lain Zikir dan Kapanca, meratakan gigi atau yang dikenal dengan Ndoso,Compo Sampari dan Compo Baju, Suna Ro Saraso (Khitan) dan juga khatam Alqur’an. Berikut tahapan prosesi upacara khitan dan khataman Alqur’an yang lazim dilaksanakan masyarakat Bima-Dompu :
1. Alunan Zikir Dalam Kapanca
Kapanca adalah upacara penempelan kapanca (inai) di atas telapak tangan anak–anak yang dikhitan. Penempelan dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat yang diiringi Ziki kapanca yang dilagukan oleh beberapa orang pezikir dan tidak diiringi musik rebana. Syair zikir berisi pujian kehadapan Allah dan Rasul.
Upacara kapanca merupakan peringatan bagi anak, bahwa nanti kalau sudah dewasa harus berani membela kebenaran dan keadilan walau tangan bercucuran darah yang disimbolkan dengan warna kapanca.
2. Meratakan Gigi (Ndoso)
Ndoso adalah upacara membersihkan dan meratakan gigi anak yang dikhitan dengan potongan kecil kayu tatanga (jarak) yang getahnya bisa menguatkan gigi. Hal ini dilakukan sebagai peringatan pada anak bahwa mulut dan gigi harus selalu bersih dan tidak boleh dikotori dengan makanan yang haram.
3. Compo Sampari dan Baju
Upacara compo Sampari atau pemasangan keris (memakaikan keris) kepada anak laki–laki yang akan di Suna Ro Ndoso. Dilakukan oleh seorang tokoh adat, diawali dengan pembacaan do’a disusul dengan membaca shalawat Nabi. Upacara ini digelar sebagai peringatan bahwa sebagai anak laki–laki harus memiliki kekuatan dan keberanian yang dilambangkan dengan sampari (keris).
Compo Sampari
Sedangkan Upacara compo baju yaitu upacara pemasangan baju kepada anak perempuan yang akan di saraso ro ndoso. Baju yang akan dipasang sebanyak 7 lembar baju poro(Baju pendek) yang dilakukan secara bergilir oleh para tokoh adat dari kaum ibu. Makna compo baju adalah merupakan peringatan bagi anak, kalau sudah di saraso berarti sudah dewasa. Sebab itu harus menutup aurat dengan rapi. Tujuh lembar baju adalah tujuh simbol tahapan kehidupan yang dijalani manusia yaitu masa dalam kandungan, masa bayi, masa kanak – kanak, masa dewasa, masa tua, alam kubur dan alam baqa(akherat).
Setelah semua upacara adat selesai dilaksanakan, maka akan dilaksanakan acara inti, yaitu acara khitanan. Bagi anak laki – laki dilaksanakan sore hari, dihadiri oleh pejabat sara hukum (Gelara dan Lebe= Gelarang dan Penghulu), para ulama, tokoh adat dan para sanak keluarga, dikhitan oleh “Guru Suna” (Guru Sunat) yaitu seorang tokoh adat yang ahli sunat. Seiring kemajuan tekhnologi, khitan dilakukan oleh petugas kesehatan atau dokter.
Saraso (khitan) anak perempuan, akan dilaksanakan pagi hari dihadiri oleh para tokoh adat perempuabn bersama sanak saudara. Khitanan anak perempuan dilakukan oleh isteri lebe (Lebai) dan istri Galara ( Gelarang). Acara khitanan diiringi dengan irama musik genda (gendang) yang bertalu–talu untuk menambah semangat dan keberanian anak yang dikhitan. Setelah disunat, khusus bagi anak laki–laki harus melakukan atraksi Maka” yaitu meloncat–loncat dengan keris di tangan kanan, sambil mengucapkan ikrar siap sedia mengorbankan jiwa raga demi Rakyat, Negeri dan Agama yang dicintai. Diiringgi irama gendang yang bertalu–talu.
4. Suna Ro Saraso
Sunat telah dilakukan sejak zaman prasejarah, diamati dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu dan makam Mesir purba. Alasan tindakan ini masih belum jelas pada masa itu tetapi teori-teori memperkirakan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, langkah menuju kedewasaan, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika atau seksualitas. Sunat diwajibkan dalam Islam dan Yahudi. Praktik ini juga terdapat di kalangan mayoritas penduduk Korea Selatan, Amerika, dan Filipina.
Dalam kehidupan masyarakat Bima, Suna Ro Saraso atau khitan tidaklah terlepas dari ajaran Islam. Meskipun pada masa lalu dilaksanakan secara sangat tradisonal. Namun proses dan tata cara khitan mengikuti petunjuk dan dalil yang ada dalam Alqur’an. Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Dalam bahasa Arab khitan juga digunakan sebagai nama lain alat kelamin lelaki dan perempuan seperti dalam hadist yang mengatakan “Apabila terjadi pertemuan dua khitan, maka telah wajib mandi” (H.R. Muslim, Tirmidzi dll.).Dalam agama Islam, khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah s.a.w. bersabda : “Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku” (H.R. Bukhari Muslim).
5. Khatam Alqur’an
Sesuai dengan ketentuan adat yang selalu berpedoman pada nilai dan norma Islam, masyarakat Bima-Dompu berusaha dengan sungguh sungguh mendidik putra–putrinya menjadi “Ana macia ima ro maloa ro sale” (anak yang beriman kuat dan beramal shaleh). Guna mewujudkan cita–cita para orang tua selalu memotivasi putra-putrinya agar rajin menuntut ilmu agama dan dunia (pengetahuan umum).
Sejak usia dini putra–putri mereka harus belajar mengaji di rumah guru ngaji. Setiap orang tua akan bahagia apabila pada usia 7 sampai 9 tahun anaknya sudah tamat belajar membaca Al Qur’an. Sebaliknya akan merasa malu apabila sampai 10 tahun anaknya belum bisa mengaji dengan lancar.
DSC01129 Apabila anak sudah selesai belajar membaca Al Qur’an, maka orang tua akan melaksanakan upacara Khata Karo’a (khataman Al Qur’an). Pada malam hari diadakan Tadarusan yang dihadiri oleh para ulama dan tokoh–tokoh masyarakat. Setelah itu dilanjutkan dengan acara Ziki Hadra (Zikir Hadrah) dan Marhaban, Barjanji dan Asrakah.
Keesokan harinya, yaitu pada sore hari, anak–anak yang di khatam, akan diantar oleh para ulama, tokoh adat bersama sanak keluarga menuju tempat upacara. Diiringgi dengan atraksi Jiki Hadra, Anak laki–laki berpakaian Sorban dan Jubah seperti pakaian ulama. Sedangkan anak perempuan memakai baju kebaya dan kerudung putih.
Sesampai di tempat upacara, didampingi oleh guru ngaji anak–anak itu akan memperagakan kemahirananya dalam membaca Al Qur’an dihadapan para ulama yang hadir. Mereka disuruh membaca surat Al Fatihah dan surat Al Ikhlas dan surat–surat pendek lainnya. Selesai upacara para ulama dan tokoh adat dan sanak keluarga akan memberikan ucapan selamat kepada mereka.
Upacara khata karo’a akan mendorong anak-anak yang belum bisa baca Al Qur’an untuk belajar Al Qur’an. Kalau anak-anak belum Khata Karo’a maka ia tidak akan dikhitan yang dalam adat Bima-Dompu dikenal dengan istilah di suna ro ndoso (laki-laki) dan saraso ro ndoso (perempuan). Hal ini akan memotivasi anak-anak untuk segera menamatkan pelajaran membaca Al Qur’an. Mereka akan malu kepada teman-temanya, bila terlambat dikhatam akibat belum bisa mengaji.
Dari penjelasan diatas dapat kita ambil intisari upacara khata karo’a yaitu antara lain.
1. Memotivasi anak untuk belajar membaca Al Qur’an
2. Mendorong para orang tua untuk memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya.
3. Sebagai media dakwah dan sebagai syiar islam

*) Sumber : Alan Malingi

==========================================================
BuyBlogReviews.com
___________________________________________________________________

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: