Madu, Menyelamatkan Dunia

Fisikawan Alber Einstein dari Amerika Serikat bilang, “jika lebah musnah dari muka bumi ini, manusia hanya sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia.” 
Kawasan Tambora dianugerahi Allah kekayaan lebah madu yang vital bagi kehidupan. Hutan-hujan tropis Tambora adalah rumah ideal bagi lebah hutan (apis dorsata). Tempat lain di Pulau Sumbawa punya madu tapi tak sehebat madu Tambora. Orang menyebut Madu Bima atau Madu Sumbawa.
Para ahli biologi memastikan tanpa penyerbukan berarti habislah makanan. Kata ahli serangga dari Pusat penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia seperti dlansir Kompas (Maret/2011) memang ada beberapa cara lain untuk membantu penyerbukan, tapi lebah tetap yang terbaik. Setiaknya 90% penyerbukan tanaman biji-bijian dibantu lebah.
Madu  Bima, umumnya di kawasan Gunung Tambora (2.851 m). Juga banyak di Desa Piong dan beberapa desa di wilayah Kecamatan Sanggar, 125 km barat laut Raba. Di sekitar gunung yang pernah meletus tahun 1815 itu, terdapat kawasan hutan seluas 122.600 ha, di mana tumbuh pepohonan sebagai sumber nektah madu dan koloni lebah madu berkembang biak.
Di era kesultanan, pengambilan madu dikoordinasikan pihak kerajaan, mengingat Sanggar merupakan salah satu kerajaan di Pulau Sumbawa. Hasil pengambilan madu dari upeti permanen, digunakan untuk menggaji petugas jeneli (kerajaan). Karena faktor sejarah, Kecamatan Sanggar lalu menjadi bagian Kabupaten Bima.
Walhasil seluruh aset yang ada di wilayah Sanggar menjadi tanggung jawab Bima. Atas pengambilan madu, pihak kecamatan mendelegasikan ke desa, berupa retribusi sebagai sumber pemasukan atau anggaran pendapatan pengelolaan keuangan desa. Pungutan itu di antaranya diwujudkan dalam bentuk iuran hasil hutan.
Madu kristal ada di lereng Gunung Tambora  pada ketinggian 900-2000 meter, terkonsentrasi di areal seluas 15.000 ha. Di situ tumbuh taride bura (tumbuhan liar berbunga putih) atau Moschosma Polyctachlyum yang diduga menjadi sebab mengkristalnya madu itu.
Menurut kebiasaan, madu kristal hanya ada saat musim taride bura berbunga, sekitar Juni-Juli saban tanun. Sebulan kemudian madu kristal mulai dipanen.
Anggapan masyarakat tersebut diragukan oleh para peneliti LIPI. Menurut Soenartono Adisoemarto dan Anita Hanna Atmowidjojo kristalisasi madu masih dianggap sebagai misteri.
Kedua peneliti yang menjelajah kawasan Tambora 16 September 1 Oktober 1986 menyatakan, keraguan itu didukung data herbarium, bahwa jenis tumbuhan yang termasuk suku labiatae itu ada di daerah lain seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lain di NTB dan NTT. Kenyataannya, madu kristal itu tidak ada di pulau-pulau itu, selain di lereng Tambora.
Bicara konsumsi madu, negara  berkembang seperti Indonesia baru mencapai 70 gram per kapita setahun. Berarti, jauh dibawah rata-rata konsumsi di negara industri yang mencapai 1.000 – 1. 600 gram per kapita per tahun.
Madu yang kini dikonsumsi dan dikemas dalam aneka merek di pasaran dalam negeri, kebayakan berwarna merah hasil budidaya manusia. Di Bima, selain madu merah juga terdapat madu putih dari alam. Madu putih ini jika disimpan lama, akan mengkristal, sehingga sering disebut madu kristal. *** Muslimin Hamzah

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: