Mete, Primadona Tambora

Musim kering sedang memuncak di bulan April. Namun barisan bukit yang berjejer di atas Kawinda Nae tetap menghijau. Di sana-sini melebat. “Itu mete,” kata satu guru asal Desa Rada seraya menunjuk bukit yang memanjang ke timur sepanjang sisi utara Tambora. Dari sekian kebun hanya sebagian yang berproduksi baik. Rupanya banyak kebun yang kurang mendapat perawatan dari pemiliknya.
Guru SMA I Kawinda itu yakin, jika kebun-kebun itu dirawat, hasil panen mete akan maksimal. Dia menyebut kebun mete subur milik beberapa guru asal Bima di sana. Data Kepet Bima menyebutkan produktivitas tanaman mete di cluster Tambora Utara hanya 0,39 ton  per hektar. Padahal di cluster Tambora Selatan sudah mencapai 0,39 ton per ha.
Kawinda Nae termasuk cluter Tambora Utara dengan luas areal tanam mete 1.964 ha. Produksinya mencapai 459 ton.
Jumlah itu tidak seberapa dibandingkan dengan areal tanam di cluster Tambora Selatan, mencapai 11.511 ha. Produksinya sudah 4.102 ton.
         
Dari tujuh cluster di wilayah Kapet Bima, menghasilkan 5.278 ton mete. Ada pun areal tanamnya mencapai 21.914 ha. Selain Tambora Utara dan Selatan, cluster lain meliputi Bima (5.588 ha), Dompu (1.128 ha), Sape (999 ha), Waworada (1.256 ha) dan Wera (468 ha).
Menyimak luas areal saat ini ditambah dengan sebagain di Lombok, telah menempatkan NTB sebagai pengahasil mete nomor dua di Indonesia, di belakang Sulawesi. Para pakar menyebut, cuaca panas ekstrim seperti umumnya di Pulau Sumbawa umumnya menjadi primadona tanaman mete. Tambora menjadi unggul berkat tanahnya yang sibur, apalagi kalau karena abu vulkanik Tambora.
Tanaman mete tergolong serbaguna. Cairan dari kulit kayunya biasa digunakan untuk bahan tinta, pencelup atau bahan pewarna. Kulit batang pohonya berkhasiat untuk obat kumur terutama menyebuhkan sariawan. Ada pun batang pohonnya menghasilkan gum atau blendok untuk bahan erekat buku. Punya daya rekat bagus sekaligus antingenagt yang merusak buku.
Akar jambu mete sudah dikenal secara tradisonal oleh masyarakat sebagai pencuci perut. Begitu daun mudanya, sudah turun temurun dimanfaatkan masyarakat Jawa Barat sebagai lalapan. Daun tua biasanya dipakai untuk obat luka bakar.
Lantas darimana datangnya pohon ajaib ini? Mete bersal dari Brasil. Tanaman ini dibawa oleh Portugis ke India 425 tahun silam. Dari sana menyebar ke daerah tropis Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Mozambik, Srilangka, Kenya, Senegal, Bahama dan Madagaskar.
Dunia pun mengenal Brasil Kenya dan India sebagai pemasok utama mete di jagad. Kebutuhan akan buah mete yang tinggi menyebabkan permintaan akan mete terus meningkat. Buahnya sudah kondang sebagai makanan olahan untuk saribuah, anggur, manisan kering,  selai, buah kalengan dan jeli. Kacang mete adalah makanan bergizi tinggi dan bisa dikombinasikan dengan coklat, kue serta es krim. *** (Muslimin Hamzah)

==========================================================
BuyBlogReviews.com
==========================================================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: